WAIKABUBAK — Derap 604 ekor kuda yang memadati Arena Pacuan Kuda Gelora Pada Eweta, Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Sabtu (18/7/2026), bukan hanya menghadirkan tontonan olahraga yang memikat ribuan penonton, tetapi juga mengukir sejarah baru bagi dunia pacuan kuda Indonesia.
Jumlah peserta terbanyak dalam satu penyelenggaraan pacuan kuda itu mengantarkan Kabupaten Sumba Barat mencatatkan Rekor Dunia sekaligus mengukuhkan daerah tersebut sebagai salah satu pusat olahraga berkuda berbasis budaya di Tanah Air.
Atas capaian tersebut, Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, S.H., menerima penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) sebagai Pemerkasa Rekor Dunia Lomba Pacuan Kuda Terbanyak.
Penghargaan diserahkan di Arena Pacuan Kuda Gelora Pada Eweta di hadapan Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman, Ketua Presidium Konfederasi Nasional Pordasi Triwaty Norman, jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, insan olahraga berkuda, serta ribuan masyarakat yang memadati arena.
Rekor yang melibatkan 604 ekor kuda itu menjadi lebih dari sekadar pencapaian angka. Capaian tersebut mencerminkan kuatnya tradisi berkuda yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Sumba sekaligus menunjukkan bahwa olahraga yang lahir dari warisan budaya mampu berkembang menjadi kekuatan baru dalam pembinaan prestasi, penggerak ekonomi daerah, serta pengembangan pariwisata berbasis sport tourism.
Bagi Sumba Barat, pacuan kuda bukan sekadar agenda kompetisi tahunan. Arena pacuan menjadi ruang bertemunya tradisi, olahraga, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kehadiran ratusan peserta dari berbagai daerah ikut menggerakkan sektor peternakan, perdagangan, jasa, hingga pariwisata, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Sumba kepada masyarakat nasional maupun mancanegara.
Pendiri dan Ketua Umum LEPRID, Paulus Pangka, mengatakan penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kepemimpinan Yohanis Dade yang dinilai berhasil menghadirkan penyelenggaraan pacuan kuda berskala besar dengan jumlah peserta terbanyak.
Menurutnya, capaian itu membuktikan bahwa Sumba Barat memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai pusat olahraga pacuan kuda bertaraf nasional bahkan internasional.
Sementara itu, Bupati Yohanis Dade menyatakan penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat, pemerintah daerah, komunitas pecinta kuda, serta insan olahraga berkuda di Sumba.
Ia menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sumba Barat untuk terus menjadikan pacuan kuda sebagai sarana pelestarian budaya sekaligus instrumen pembangunan daerah yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Terima kasih atas penghargaan rekor dunia yang kami terima ini. Dan kami berkomiten untuk mempertahankan rekor ini untuk terus memajukan olahraga berkuda pacu di Sumba Barat. Kami ingin pacuan kuda tidak hanya dikenal sebagai tradisi masyarakat Sumba, tetapi juga menjadi olahraga yang mampu melahirkan prestasi, meningkatkan kunjungan wisata, menggerakkan ekonomi rakyat, dan mengharumkan nama Sumba Barat di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Yohanis Dade.
Momentum lahirnya Rekor Dunia 604 peserta tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa olahraga tradisional yang tumbuh dari akar budaya lokal memiliki peluang besar berkembang menjadi agenda olahraga nasional.
Dengan dukungan pemerintah, organisasi olahraga, dan masyarakat, Sumba Barat kini semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu episentrum pacuan kuda Indonesia.


No comment